Ruang Baca

Ruang Baca
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Januari 2021

Ruang Hikmah: 24 jam yang sama

 Kita semua diberi jatah waktu yang sama, 24 jam sehari. Ada yang memanfaatkan sebagian waktu tersebut untuk bekerja keras, ada yang memanfaatkan sebagian waktunya untuk rebahan, ada yang memanfaatkan sebagian waktunya untuk main game, ada yang memanfaatkan sebagian waktunya untuk belajar, ada yang memanfaatkan sebagian waktunya untuk ibadah, ada yang memanfaatkan sebagian waktunya untuk kegiatan sosial, ada yang memanfaatkan sebagian waktunya untuk mewujudkan ide-ide kreatif, ada yang memanfaatkan sebagian waktunya berlatih olahraga, ada yang memanfaatkan sebagian waktunya untuk bersenang-senang.



 Lalu, kira-kira untuk apa waktu kita? Apa sama dengan yang lain?. Waktu tak pernah kembali, waktu tak pernah mengikuti kita, karena waktu telah ditentukan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan waktu 24 jam dalam kehidupan sehari-hari sehari kita tersebut. Mau kita isi apa waktu-waktu kita tersebut.

Jumat, 22 Januari 2021

Ruang Kisah : Tinggal di Desa atau Tinggal di Kota

 Sebenarnya pertanyaan ini juga saya alami beberapa tahun yang lalu. Ketika saya benar-benar merasa dalam titik nadir pilihan hidup saya, bosan tinggal di kota. Rasanya benar-benar sudah neg😁 dengan hiruk pikuk kota. Well, ini hanya pengalaman pribadi saya, pemikiran ini bisa subyektif banget karena setiap orang beda persepsinya. Wajar, kalau ada kalanya orang yang mikir kenapa betah tinggal di kota? Pressure yang dirasakan beda 💯% dengan tinggal di desa. Apalagi ketika pandemi melanda, pertanyaan ini kembali mencuat, kenapa tinggal di kota?

Tinggal di desa lebih baik dari alamnya. Suasana desa yang masih alami membuat penduduknya  lebih bisa mendapat udara segar dan keindahan alam.



Senin, 13 Mei 2019

Challenge Blog Ramadhan 2019 : Belajar Tekad dari Bidadari Kecil

Umurnya belum genap 10 tahun, ketika Hira bertemu dia. Sepintas, tak nampak kesedihan atau kepenatan tubuhnya. Tawa dan senyum tak lepas menghiasi wajahnya. Dia sedang asyik bermain dengan teman-temannya. Tiga puluh menit kemudian tubuhnya mulai bereaksi, wajahnya memerah. Kondisinya tak berhenti sampai disitu, beberapa menit kemudian napasnya menderu, dan oksigen bantuan pun dibutuhkan untuk membantu dia bernapas. Namun tak lama kemudian ketika napasnya mulai beraturan, senyum lebar pun pun menguak tak tertahankan. Sungguh, bidadari kecil ini tak henti-hentinya menebar srnyum, menyakinkan orang-orang di sekitarnya bahwa dia baik-baik saja

Jumat, 12 April 2019

Mushashi : Die Tatkraft von Japan

Miyamoto Mushashi ist nicht ungewohnlich. Er ist nur armlich Ronin von die Mimasaka-Provinz Japan (an Shogun Ara beginn) sein kindbeit ist nich sonder. Er ist klein verbrechen. Die Gesellschaft auffassen Ihn als der Abfall. Vielleicht Er neir werde einen Dorf Verbrecher wenn Er trefft nicht mit Takuan Sensei.Takuan ist ein Zen pfrarrer auch lehrer hat erforlg fur Zahmen Ihn Wein der Pfarrer, Mushashi hat eine Aufklarung und Er unterbrecht fur vertiefen den sabel-wissenschaft. Gleich wei sein lubrer. Mushashi bundeln Zen mit Sabel-Wissenschaft. Wahrend jahre lan durch streift. Mushashi umfang Japan fur scharfen den Sabel-Wissenschaft und vertiefen Zen. Wahrend auch hat Er den Kampt, das Training und dasserel mit Japanen sabel Meister.

Rabu, 27 Desember 2017

Mengenang Pak Git

Masih teringat jelas sesosok figur bertubuh besar yang selalu duduk di koridor kampus, otomatis mahasiswa yang baru datang atau pergi dari kampus harus melewati beliau. Hal ini sangat menyebalkan bagi kami, para mahasiswa TP. Penyebabnya sih sepele, kami tidak bisa lewat begitu saja, ada beberapa pertanyaan yang selalu dan selalu beliau tanyakan “Kamu berasal dari mana? Masih adakah lahan-lahan pertanian di tempatmu tinggal? Kalau ada, alat pertanian apa saja yang digunakan oleh masyarakat di sana? Jenis tanah yang ada di sana apa? Tanahnya cocok ditanami apa?dsb. Hebatnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan diulang-ulang kembali ketika kami berpapasan dengan beliau, tanpa rasa bosan dan selalu dicatat. Sebaliknya, kami (para mahasiswa beliau) merasa bosan dan aneh dengan pertanyaan-pertanyaan beliau tersebut karena kami pikir jika pertanyaan dilontarkan sekali selama satu bulan akan wajar dan tak jadi masalah tapi ini setiap bertemu selalu menanyakan hal yang sama, siapa sih yang enggak bosan dan uring-uringan?. ^^ Makanya setiap datang atau pergi dari kampus, kami selalu mengendap-endap agar tak bertemu dengan beliau. Kalaupun kami bertemu pasti ada seribu alasan untuk mangkir dari pertanyaan-pertanyaan beliau.
Lain lagi ceritanya kalau waktu kuliah. Setiap waktu mata kuliah beliau, kami akan berebutan tempat duduk di barisan tengah. Istilahnya kami gontok-gontokan dulu untuk dapat tempat duduk di barisan tengah karena enggak mungkin kan semua mahasiswa beliau dapat tempat duduk tersebut. Beliau terkenal sangat alergi dengan mahasiswa yang duduk di barisan belakang. Pasti, sebelum kuliah beliau dimulai, mahasiswa-mahasiswa yang duduk di barisan belakang harus pindah ke depan. Ini hal yang kami hindari banget karena kami, para mahasiswa yang otaknya alakadarnya sangat alergi untuk duduk di barisan depan. Kami tak ingin mempermalukan diri kami dan sebisa mungkin menghindari barisan depan. ^^ Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Pak Git suka melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada para mahasiswa yang duduk di depan. Apalagi beliau sudah kondang dengan kegalakannya, tidak ada ampun bagi mahasiswa yang tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan beliau.
Alkisah, pada salah satu kuliah beliau, seorang teman kami berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan beliau dengan lugas dan sebaik-baiknya. Tetapi respon beliau sungguh di luar dugaan, teman kami tersebut disemprot habis-habisan karena menurut beliau, teman kami tidak mendasarkan jawabannya dengan dasar-dasar ilmu, hanya berupa perkiraan. Ujung-ujungnya teman kami mendapat ceramah panjang: .............”Sebagai sarjana TP harusnya lebih ahli dari petani yang ditelitinya. Bukannya hanya asal mengikuti cara yang lazim digunakan oleh para petani. Tetapi harus lebih banyak tahu dan bisa membuktikannya secara ilmiah bla....bla...bla... “ Pernah juga salah satu teman perempuan kami merasakan kegalakan beliau, gara-garanya mahasiswi tersebut tidak bawa buku catatan kuliah. Penyebabnya sih klasik ‘kelupaan karena sibuk mengerjakan laporan praktikum.’ Ehmm..bisa ditebak akhirnya, mahasiswi tersebut mendapat nasihat panjang lebar dari beliau: ...”Sebagai manusia harusnya malu dengan keteledoran tersebut. Seorang muslimah harus menunjukkan identitasnya, sebagai bukti ketaatannya sebagai hamba bla...bla... “ Bagi beliau, catatan itu sama pentingnya dengan kehadiran mahasiswa di ruang kuliah beliau. Makanya, beliau tidak segan-segan menegur mahasiswa yang tidak membuat catatan dari materi kuliah beliau.

Selasa, 26 Desember 2017

Tentang Ujian Diri

Pagi itu, saat naik angkutan umum tak sengaja saya ketemu dengan tetangga saya. Setelah sedikit berbasa-basi, obrolan secara tiba-tiba bergeser ke topik tetangga-tetangga yang lain. Walhasil, dengan susah payah saya nyambung ke topik tersebut sambil sedikit mengingat-ngingat nama tetangga saya^^(ketahuan kan kalau saya enggak hapal tetangga kanan-kiri). Saya tak ingat persis apa yang diobrolin saat itu, hanya beberapa kata saja yang tertangkap jelas di pikiran saya. Ada hal menarik yang diungkapin tetangga tersebut ketika membahas tetangga kami yang bernama (sebut saja namanya Mbak A). Di mata kami, Mbak A itu perempuan cantik yang cerdas dan sangat mandiri. Setelah kehilangan orang tuanya Mbak A harus menjalani operasi, dan penyakitnya pun tak main-main karena berhubungan dengan otak. Menanggapi hal tersebut saya cuma bilang ke tetangga saya bahwa kita seharusnya bersyukur dikasih badan sehat dan ujian diri yang biasa-biasa saja. Tetapi tanggapan tetangga saya lain lagi, tetangga saya bilang bahwa derajat Mbak A lebih tinggi beberapa tingkat di atas kita karena ujian diri yang Mbak A jalani lebih sulit dan bertubi-tubi. Mbak A lebih kuat dari kita, tingkatannya pun lebih tinggi dari kita.
Well, tanggapan tersebut membuat saya berpikir lagi bahwa apa yang dinyatakan oleh tetangga saya ada benarnya juga karena bukankah Tuhan hanya memberi cobaan dan ujian diri sesuai kemampuan dari masing-masing manusia. Berarti kalau seorang manusia diuji dengan bermacam-macam cobaaan itu tandanya kemampuan dirinya lebih dari manusia-manusia lainnya.
Sayangnya kita sering tak menyadari hikmah tersebut. Terkadang malah kita hina-hina dan kita rendahkan orang-orang yang sedang diuji oleh Tuhan. Atau kalau tidak kita hina, orang yang sedang diuji tersebut kita kasihani dengan berlebihan. Padahal seharusnya kitalah yang harus dikasihani karena boleh jadi orang yang diuji tersebut lebih dicintai Tuhan daripada kita.

Minggu, 24 Desember 2017

Benteng Pribadi

Ada ungkapan menarik dari Eri Sufid tentang psikologi diri. Ungkapan tersebut tertera dalam cerpennya yang dimuat dalam Majalah Anita. Ungkapannya sebagai berikut:
Ungkapan ini ada benarnya, karena tanpa kita sadari kita mengalami serangan kata-kata negatif ke diri kita. Bisa saja serangan tersebut berupa caci maki, hinaaan, atau kata-kata negatif lainnya yang membuat kita jengkel, kesel, down dsb. Untuk itulah benteng pribadi sangat dibutuhkan, tak ada pertahanan psikologis terbaik kecuali dari diri kita sendiri, yang bisa menangkal segala cacian, makian dan cercaan orang. Pertahanan psikologi yang bisa menguatkan diri kita dari dalam.

Kamis, 14 Desember 2017

Soal Waktu

Pada akhirnya kita semua akan kembali pada-Nya, ini hanya soal waktu. Entah panjang atau pendek sisa waktu tersebut, tujuan akhirnya sudah jelas, suka tidak suka toh pada akhirnya setiap dari kita akan sampai pada batas waktu yang telah digariskan.
#justreminder

Senin, 02 Januari 2017

Kenshin : Jalan Pedang Yang Berliku

Ilmu pedang yang selalu melindungi manusia selama berabad-abad adalah aliran Hitenmitsurugi ‘kan? Kalau kita tak menggunakannya sekarang, kapan kita akan menggunakannya?
Ituah tekad membara dari seorang samurai muda yang berambisi menggunakan pedangnya untuk membantu sesama, dan nampaknya sang guru tak mampu menghentikan ambisi samurai muda tersebut.
Saat ini banyak orang yang bersedih dan menderita di sekeliling kita, walau dengan alasan apa pun, aku tak mau membiarkan mereka begitu saja!
Niat suci yang begitu mulia namun jalan pedang bukan hanya jalan yang hitam dan putih, seiring berjalannya waktu, niat suci tersebut harus berlumuran darah. Demi membuka zaman baru yang di mana semua orang merasa tenang menjalani hidupnya, sang samurai muda pun mengotori pedangnya dengan menjadi seorang Battousai, menghilangkan jiwa-jiwa mereka yang menghalangi tegaknya zaman baru tersebut.
Bila zaman baru itu sudah tiba’ Pada saat itulah aku gantungkan pedangku
Zaman baru telah terbentuk, sang samurai muda pun meninggalkan pedangnya dan memilih menjadi seorang Rurouni (pengembara)
Kau membunuh banyak orang, dan sekarang kau lari dari semua itu? Kau akan tetap hidup dengan pedangmu hingga kau sendiri kelelahan, karena hanya jalan itulah yang kau punya.
Sepuluh tahun telah berlalu, sang rurouni pun kembali ke Tokyo, tanpa dia nyana, ketenaran masa lalu dirinya sebagai battousai disalahgunakan oleh orang-orang yang tak bertanggung-jawab. Sanggupkah dia membiarkan itu semua dan melanjutkan pengembaraannya.
Dengan alasan apa pun, aku tak bisa membiarkan orang-orang yang menderita dan bersedih hati begitu saja tanpa bantuan.
Sekali lagi sang rurouni mengayunkan pedangnya, kali ini bukan demi menjaga zaman baru tapi demi orang-orang lemah yang ingin dilindunginya. Dia balik mata pedangnya menjadi sakabatou dan dia pun memantapkan diri dengan berprinsip tak akan membunuh. Tapi, seberapa kuatkah tekad tersebut ketika masa lalu terus mengejarnya dan dia pun terus dihantui rasa bersalah sampai akhirnya dia menemukan rumahnya.
Sudahlah....bukankah setiap orang punya 1-2 cerita masa lalu yang tidak usah kita ketahui.
Maka untuk pertama-kalinya dia merasa pulang ke rumah setelah sepuluh tahun pengembaraannya yang tak tentu
Aku tak menginginkan si battousai ada di sini... Yang kuinginkan adalah si pengembara....

Sabtu, 24 Desember 2016

Seperti Lebah

Ada kata-kata mutiara yang bilang 'belajarlah kepada lebah' . seperti yang kita tahu, lebah itu hanya memakan makanan yang baik-baik dari bagian tumbuhan dan yang dikeluarkan dari lebah pun hasil yang baik yaitu 'madu'. Agaknya kita sebagai manusia kudu belajar dari binatang kecil tersebut, hanya memakan yang baik-baik dan menyerap yang baik-baik sehingga hasilnya nanti baik. seperti lebah yang hidupnya bermanfaat, dan menghasilkan madu bagi kehidupan. Semoga..

Sabtu, 17 Oktober 2015

Quotes of the day (1)

                                                                                                             By Dr. Christine Fald
Apakah Anda sering ragu-ragu pada keputusan yang akan And a just?
Apakah Anda sering merasa bersalah dengan pilihan yang Anda tentukan?
Apakah Anda sering merasa orang Lain sedang membandingkan diri Anda dengan orang lain di sekitar Anda?
Apakah Anda sering merasa kehilangan kendali atas hidup Anda sendiri?
Apakah Anda takut pada sesuatu?
Apakah Anda takut gagal?
Apakah Anda sering curiga berlebihan pada orang Lain?
Apakah Anda sering merasa tidak percaya diri dengan penampilan And a?
Apakah Anda merasa sering direndahkan orang lain saat mereka mengabaikan Anda?
Apakah Anda sering merasa bingung pada apa yang akan Anda kerjakan esok hari?
Apakah Anda mudah latah?
Apakah Anda takut pada tanggapan orang atas diri Anda?
Apakah Anda sering merasa tak mampu melakukan tanggung jawab yang diberikan atasan Anda?
Apakah Anda sering merasa tidak puas dengan ritme dan cara kerja rekan Anda?
Apakah Anda sering merasa bekerja berlebihan untuk gaji yang sekedarnya?
Apakah Anda sering berpikir jika waktu bisa dikembalikan mundur sehingga And a bisa melakukan sesuatu lebih baik?
Jika Anda menjawab ''ya pernah'', ''kadang-kadang'', atau ''sering'' berarti ANDA ADALAH SEORANG PENJAJAH YANG MENJAJAH DIRI.
Musuh terbesar diri Anda, bukan orang Lain, tetapi DIRI SENDIRI! Penjajah  terkejam yang pernah ada, bukan orang lain, tetapi ketika Anda "membiarkan diri" Anda tersiksa dengan pola pikir Dan perasaan atas segala sesuatu yang And a batasi sendiri. Padahal Anda adalah seorang yang merdeka; baik Fisik, emosi Dan batin! Anda manusia bebas!
Mengapa membatasi diri dalam lingkaran-lingkaran negatif, ketidakbenaran, kepanikan dan menyerang dengan ancaman membahayakan diri sendiri?
Dan 'peperangan' ini menjadi kian melelahkan Dan tak berpeluang menang, apabila Anda tidak segera menghentikan kekuatan 'penyerangan-penyerangan' atas diri Anda......

Minggu, 05 Juli 2015

Catatan Si Rumput Teki

Mungkin, aku hanya rumput biasa yang berusaha tumbuh dan tumbuh walaupun banyak yang menginjak dan membabatku. Aku akan terus tumbuh dengan keterbatasan, dan tekadku. Aku hanya ingin terus memandang matahari, menikmati buaian angin dan menatap indahnya langit.
Mungkin banyak yang menilaiku dengan hina, memandangku dengan sebelah mata, meremehkanku dan menganggapku gulma. Aku tak peduli, bahkan tak mau peduli untuk mengasihi diri. Aku akan terus berdiri dengan kemampuan maupun ketidakmampuan. Memang aku sering kesakitan dan terluka tetapi aku telah berjanji untuk terus tumbuh dan tumbuh sampai jasad ini renta dan hancur menjadi tanah.

Cr.pic to owner

Kisah:
Tulisan ini tercipta gegara kesal sama rumput-rumput liar di depan rumah, Sudah dicabut numbuh tinggi lagi hanya dalam hitungan hari. Ternyata segala sesuatu itu nadir di dunia ini dengan fungsinya masing-masing, siapa menyangka rumput bandel ini telah mengajari kita hikmah semangat dan pantang menyerah. Pantas saja dalam manga dan drama Hana Yori Dango, pemeran wanitanya diibaratkan sebagai gadis rumput liar, meski diinjak-injak dan ditumpas tetap akan tumbuh dan berdiri lagi. Tak Kenal menyerah meski ada hujan badai sekalipun. 

Jumat, 03 Juli 2015

Musashi : Semangat dari Jepang

Orang biasa akan luar biasa jika dia tahu dirinya orang biasa, Dan
Karenanya dia selalu mencoba meningkatkan diri
_Miyamoto Musashi_

Musashi bukan orang luar biasa, ia hanya ronin miskin dari propinsi Mimasaka Jepang (pada awal pemerintahan Shogun). Masa kecil Musashi tidak istimewa, ia adalah bromocorah kecil yang dianggap sampah oleh masyarakat. Ia mungkin hanya akan menjadi penjahat kampung jika tidak bertemu Takuan, Pendeta Zen sekaligus guru yang berhasil menjinakkannya. Berkat pendeta ini pulalah Musashi mendapat pencerahan dan memutuskan untuk mendalami ilmu pedang. Serupa dengan gurunya, Musashi berusaha menggabungkan Zen dengan ilmu pedang yang dipelajarinya. Musashi pun bertahun-tahun mengembara keliling Jepang untuk memperdalam ilmu pedang dan mengasah filsafat Zen-nya. Selama itu pulalah ia mengadakan latihan, pertempuran dan uji tanding dengan ahli pedang dari berbagai penjuru Jepang.
Tidak ada yang luar biasa pada bakat Musashi, yang menjadikannya luar biasa adalah ia menyadari kekurangan dirinya dan karena itulah ia selalu meningkatkan diri. Ia tidak mau pasrah dengan pemberian Tuhan. Ia menyemangati dirinya untuk selalu lebih baik dan lebih baik lagi. Ia selalu berusaha mengasah bakat-bakatnya dengan sebaik-baiknya dan selalu berdisiplin dengan latihannya tersebut. Sehingga ia pun berhasil menjadi maestro samurai yang terkenal, ahli Zen serta sempat menulis beberapa buku tentang permainan pedang dan Zen.
Itulah Musashi: seorang maestro yang tidak diragukan lagi kemampuan pedangnya. Ia selalu menyemangati dirinya untuk belajar lebih keras dan lebih keras lagi. Ia memang sering jatuh, dihina, dilecehkan dan ditertawakan orang tetapi ia tidak mau peduli, ia tetap melawan keterbatasan dirinya. Ia telah menunjukkan pada bangsa Jepang bahwa "bakat" bukan satu-satunya jalan untuk sukses atau berhasil.
Pantas jika Musashi menjadi salah satu ikon semangat orang  Jepang. Ia adalah penggambaran orang biasa yang tidak pernah menyerah dengan keterbatasan dirinya. Memang, ia tidak menjalani hidupnya dengan mudah akan tetapi semangatnya dalam memperjuangkan hidupnya telah menginspirasi banyak orang untuk terus bersemangat dan hidup lebih baik lagi