Ruang Baca

Ruang Baca

Minggu, 07 Juni 2020

Ruang Baca 7 : Namanya Massa


Judul Buku                  : Namanya Massa

Penulis                         : Ratna Indraswari Ibrahim

Penerbit                       : LkiS Yogyakarta

Tahun Terbit                : Februari, 2001

Jumlah Halaman          : 172 + Vii hlm



Kepekaan sosial jika diramu dengan analisa yang tajam dan kritis akan menghasilkan karya yang bernilai. Hal inilah yang tercermin dari buku ini. Sang penulis mampu memaparkan kepekaan sosialnya menjadi kumpulan cerita yang menarik.  Penulis menuangkan kegelisahan-kegelisahan pikirannya dalam beberapa cerita, yang bisa dibilang merupakan ekspresi kekritisan penulis terhadap ketidak-adilan, diskriminasi (terutama masalah gender), ketidakberdayaan dsb. Penulis dengan apik membedah fenomena-fenomena sosial budaya dan politik menjadi substansi cerita, yang tidak hanya kritis tetapi juga mudah dicerna dan dipahami oleh semua kalangan pembaca. Sehingga misi dari cerpen ini dapat tersampaikan ke benak pembaca, tidak hanya satu kalangan pembaca tetapi meliputi banyak kalangan pembaca.

Buku ini dipaparkan dengan gaya penceritaan yang ringan, alur cerita yang mengalir lancar serta penggunaan bahasa yang rumit. Sehingga buku kumpulan cerpen ini sangat mudah untuk dibaca dan tanpa terasa membuat para pembaca ingin membaca buku ini sampai tuntas.

Pada akhirnya, dari buku ini kita belajar bahwa ada banyak fenomena yang ada di sekitar kita yang dapat menjadi hikmah dan pembelajaran bagi kehidupan kita. Jadi, baca realita!





Sabtu, 06 Juni 2020

Ruang Baca 6 : Membaca Watak dan Pikiran

Pada edisi bulan Juni ini, saya menulis tentang ruang baca. Sebuah edisi khusus yang membahas tentang buku-buku yang ‘dulu’ pernah saya baca. saya menuliskan kembali catatan-catatan tentang buku yang pernah saya baca tersebut di edisi ruang baca. Meskipun dengan segala keterbatasan tulisan dan bahan (karena saya tidak bisa menyertakan foto dari buku-buku tersebut karena kebetulan buku yang saya baca tersebut buku pinjaman di perpustakaan atau di rumah baca) maka dengan sangat terpaksa tidak ada dokumentasinya.

So, Check this one !


Judul Buku                  : Membaca Watak dan Pikiran

Penulis                         : Drs. Rudy Hariyono

Penerbit                       : Putra Pelajar

Tahun Terbit                : Cetakan Pertama, 2000

Jumlah Halaman          : 140 hlm



Setiap hari kita bertemu sosok orang yang berbeda dan pastinya sosok-sosok tersebut mempunyai karakter/watak kepribadian yang berbeda juga : ada sosok yang karakter kepribadiannya ceria dan periang, ada yang pendiam, ada yang pemberontak, ada yang penolong, ada yang penyabar dan ada juga yang emosian. Kita tidak menginginkan karakter-karakter/watak kepribadian yang berbeda tersebut mengganggu kehidupan kita, karena pastinya kita menginginkan kehidupan yang tentram dan damai ketika hubungan komunikasi dengan orang lain.

Namun pada kenyataannya, hubungan komunikasi dengan orang lain itu ibarat bermain detektif. Kadang, kita harus menduga-duga bagaimana karakter/watak si A, karakter/watak si B, dan karakter/watak si C. Menduga-duga apa yang mereka senangi dan apa yang mereka benci. Maka karena tujuan menduga dan memahami karakter/watak itulah buku ini ditulis. Sang penulis dari buku ini memaparkan bagaimana cara-caranya agar kita mampu membaca watak dan pikiran seseorang. Sehingga diharapkan kita mampu berhubungan komunikasi dengan orang lain secara tepat, efektif dan positif.

Penulis menguraikan watak seseorang melalui warna kesukaan, gerakan telapak tangan, isyarat mata, gerakan di sekitar wajah, gerakan tubuh, hobi dan perabotan rumah yang dipilih. Semuanya dipaparkan oleh sang penulis secara lengkap beserta keterangannya sehingga bisa kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, buku ini telah menawarkan bacaan psikologis yang menarik, sehingga memungkinan agar dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Karena dengan kemampuan membaca watak dan pikiran orang lain, kita dapat menjaga diri dan lebih hati-hati.





Jumat, 05 Juni 2020

Ruang Baca 5 : The Imagination is More Important Than Knowledge

Pada edisi bulan Juni ini, saya menulis tentang ruang baca. Sebuah edisi khusus yang membahas tentang buku-buku yang ‘dulu’ pernah saya baca. saya menuliskan kembali catatan-catatan tentang buku yang pernah saya baca tersebut di edisi ruang baca. Meskipun dengan segala keterbatasan tulisan dan bahan (karena saya tidak bisa menyertakan foto dari buku-buku tersebut karena kebetulan buku yang saya baca tersebut buku pinjaman di perpustakaan atau di rumah baca) maka dengan sangat terpaksa tidak ada dokumentasinya.

So, Check this one !


Judul Buku                  : The Imagination is More Important Than Knowledge

Penulis                         : Albert Einstein

Penerbit                       : INSTHINK PUBLISHING

Tahun Terbit                : Cetakan Pertama, 2005 (edisi terjemahan Bahasa Indonesia)

Jumlah Halaman          : 105 hlm


Rasa penasaran kadang menghasilkan sesuatu yang tidak terduga, baik berupa ide maupun karya yang baru. Namun hanya segelintir orang di dunia ini yang memanfaatkan rasa penasarannya. Banyak dari mereka yang lebih senang menerima sesuatu yang pasti, yang tidak perlu diotak-atik lagi dan yang tidak butuh proses waktu lama untuk memahaminya. Daripada sesuatu yang belum pasti, meskipun yang belum pasti tersebut itu mengundang rasa penasaran,  banyak orang yang mengacuhkan rasa penasaran tersebut.  Dan salah satu dari segelintir orang di dunia ini yang memanfaatkan rasa penasarannya dengan maksimal adalah Albert Einstein.

Ilmuwan Albert Einstein adalah penemu teori relativitas yang tidak hanya beken pada masanya tapi sampai saat ini popularitas Albert Einstein tetap tak terbantahkan. Nama beliau berkibar sebagai salah satu ilmuwan utama di jagad ini. Einstein sendiri mengikrarkan rasa penasarannya dalam kutipan yang masyhur. Kutipannya sebagai berikut : “ Aku tidak punya bakat khusus. Aku hanyalah orang yang penasaran.

Itulah sekelumit kelebihan Einstein yang diceritakan oleh buku ini. Seorang ilmuwan yang mampu memanfaatkan kemampuan otaknya dengan semaksimal mungkin. Beliau bisa mengolah rasa penasarannya terhadap alam semesta menjadi sebuah teori fisika. Rasa penasaran beliau tidak hanya khusus pada bidan fisika saja tetapi juga meliputi bidang-bidang lain seperti : pendidikan, kehidupan, agama, perang dan perdamaian. Ungkapan-ungkapan pikiran Einstein tentang hal tersebut dapat dibaca di dalam buku ini. Ungkapan-ungkapan tersebut dirangkum dalam kata-kata yang singkat, mudah dipahami dan tidak berbelit-belit.

Pada akhirnya, dari buku ini bisa disimpulkan bahwa rasa penasaran akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat jika motivasi untuk ke arah itu ada. 





Kamis, 04 Juni 2020

Ruang Baca 4 : CERMIN HATI, Kisah-Kisah Hikmah dan Keteladanan

Pada edisi bulan Juni ini, saya menulis tentang ruang baca. Sebuah edisi khusus yang membahas tentang buku-buku yang ‘dulu’ pernah saya baca. saya menuliskan kembali catatan-catatan tentang buku yang pernah saya baca tersebut di edisi ruang baca. Meskipun dengan segala keterbatasan tulisan dan bahan (karena saya tidak bisa menyertakan foto dari buku-buku tersebut karena kebetulan buku yang saya baca tersebut buku pinjaman di perpustakaan atau di rumah baca) maka dengan sangat terpaksa tidak ada dokumentasinya.


So, Check this one !

Judul Buku                  : CERMIN HATI, Kisah-Kisah Hikmah dan Keteladanan
Penulis                         : Saikhul Hadi
Penerbit                       : Cinta Pena
Tahun Terbit                : Pebruari 2005
Jumlah Halaman          : 212 hlm

“Derajat dan ketakwaan seseorang tidak diukur dari dari baju luarnya, tetapi dari dalam hatinya. Bajunya mungkin sufi, tetapi hatinya angkara; bajunya mungkin dasi, tapi hatinya surga.”
Kalimat di atas merupakan penggalan dari buku ini, secara tidak langsung  sang penulis buku ini mengajak kita untuk bercermin kepada hati kita. Karena dengan hatilah kita bisa berkaca apakah yang kita lakukan itu baik, benar, buruk, menyakiti, bernurani atau tidak bernurani, bermoral atau tidak bermoral.

Buku ini membedah masalah agama, langsung melalui sebuah kisah. Sehingga aktivitas ibadah itu nyata, dipraktekkan bukan hanya berupa jargon-jargon atau teori saja. Tetapi juga penerapannya dalam kehidupan nyata. Mungkin kalimat di bawah ini secara tepat menggambarkannya. “Hakikat ibadah itu terletak pada maknanya bukan pada ritualnya.”

Religiusitas tidak diukur dari kulit luar tapi menghujam ke dalam yaitu hati. Buku ini membuat kita merenung dan intropeksi diri apa yang kita lakukan, apa yang menjadi dasar hidup ini.






Rabu, 03 Juni 2020

Ruang Baca 3 : Pulau Cinta di Peta Buta

Pada edisi bulan Juni ini, saya menulis tentang ruang baca. Sebuah edisi khusus yang membahas tentang buku-buku yang ‘dulu’ pernah saya baca. saya menuliskan kembali catatan-catatan tentang buku yang pernah saya baca tersebut di edisi ruang baca. Meskipun dengan segala keterbatasan tulisan dan bahan (karena saya tidak bisa menyertakan foto dari buku-buku tersebut karena kebetulan buku yang saya baca tersebut buku pinjaman di perpustakaan atau di rumah baca) maka dengan sangat terpaksa tidak ada dokumentasinya.


So, Check this one !

Judul Buku                  : Pulau Cinta di Peta Buta
Penulis                         : Raudal Tanjung Banua
Penerbit                       : Jendela
Tahun Terbit                : Juli 2003
Jumlah Halaman          : xii + 177 hlm

Secara garis besar, buku ini menceritakan tentang Masalah Timor Leste, pergolakan Aceh, masalah TKI, dan masalah modernisme. Beberapa masalah di atas merupakan masalah klasik negeri ini, yang dari tahun ke tahun bukannya berkurang tapi terus bertambah dan merembet ke berbagai dimensi kehidupan. Rasanya masih teringat jelas berita penyiksaan TKI oleh majikannya, berita pelecehan TKW oleh sang majikan, dan berita perlakuan tak manuasiawi terhadap TKI. Dari tahun ke tahun permasalahan tersebut masih sering muncul ke permukaan. Belum lagi masalah lainnya seperti modernisasi, kemiskinan dan masalah pelanggaran HAM di Aceh (pada masa sebelum reformasi) dan masalah Timor Leste (sebelum merdeka). Masalah-masalah tersebut dikisahkan oleh Bung Raudal dengan sangat manusiawi dan sangat tajam, seakan-akan mampu menyayat-nyayat rasa kemanusiaan kita. Kritik yang tajam dan kadang menyentuh ditulis dengan begitu mempesona oleh Bung Raudal.

Sebagai seorang penulis, Bung Raudal bukan hanya ahli dalam merangkai kata-kata indah tetapi beliau juga ahli membungkus makna dalam kata-kata indah tersebut. Beliau tidak mau hanya menyuguhkan kata-kata indah tapi kosong maknanya. Sehingga bisa dilihat dari seluruh kumpulan cerpen ini, kekonsistenan Bung Raudal dalam memberi makna pada kata-kata indah dalam tulisannya. Selain keahlian dalam memberi filosofi pada kata-kata tulisannya, Bung Raudal juga sangat kritis dalam menyikapi masalah-masalah kemanusiaan. Misalnya dalam cerita “Elegi Kantor Pos”, Bung Raudal menyindir rekan-rekan penulis yang hanya mementingkan kepentingan indidualnya tanpa mau tahu tentang apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya, apa yang menimpa manusia-manusia yang ada sekitanya dan apa yang menimpa bangsanya.

Berbagai cerita yang ada di buku ini menarik untuk dibaca. Tema-tema politik yang begitu meninjol dan humanisme yang kental, memaksa para pembacanya untuk memikirkan apa yang terjadi di cerita ini. Buku ini telah mengajak kita untuk menyusuri samudra kata tentang negeri tercinta ini. Para pembaca diajak untuk membaca realitas yang dihadapi oleh negeri ini

Mungkin seperti judul buku ini Pulau Cinta di Peta Buta adalah harapan yang sangat diimpikan. Sebuah pulau cinta yang adil, damai dan makmur





Selasa, 02 Juni 2020

Ruang Baca 2 : Oliver Twist

Pada edisi bulan Juni ini, saya menulis tentang ruang baca. Sebuah edisi khusus yang membahas tentang buku-buku yang ‘dulu’ pernah saya baca. saya menuliskan kembali catatan-catatan tentang buku yang pernah saya baca tersebut di edisi ruang baca. Meskipun dengan segala keterbatasan tulisan dan bahan (karena saya tidak bisa menyertakan foto dari buku-buku tersebut karena kebetulan buku yang saya baca tersebut buku pinjaman di perpustakaan atau di rumah baca) maka dengan sangat terpaksa tidak ada dokumentasinya.

So, Check this one !





Judul Buku                  : Oliver Twist
Penulis                         : Charles Dickhens
Penerbit                       : Narasi (Edisi Indonesia)
Tahun Terbit               : Mei 2003 (Edisi Indonesia)
Jumlah Halaman        : 200 hlm

Kisah petualangan selalu mengingatkan kita pada kisah legendaris Tom Sawyer dan Huckblerry Finn-nya Mark Twain. Petualangan kedua bocah banyak akal tersebut akan selalu dikenang oleh pembaca-pembaca kecilnya. Lalu kisah petualangan apalagi yang legendaris? Jawabannya ada di buku ini, kisah petualangan Oliver Twist adalah kisah petualangan yang telah melegenda dan diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Berbeda dengan petualangan Tom Sawyer dan Huckblerry Finn yang banyak terjadi di alam terbuka. Maka petualangan Oliver Twist banyak terjadi di rumah penampungan anak-anak terlantar. Dari rumah penampungan tersebutlah petualangan Oliver berlanjut di kehidupan jalanan, di tengah-tengah sindikat para pencopet. Mau tak mau, Oliver pun terseret  ke ritme kehdupan para pencopet yang mengincar uang para pengguna jalanan. Sampai pada akhirnya nasib memutar balikkan lagi arah hidup Oliver. Lalu bagaimana akhir dari petualangan Oliver? Apa yang dia dapat dari petualangannya? Ikuti kisah petualangannya di buku ini.


Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana dan apa adanya, sesuai dengan bahasa yang sehari-hari dipakai anak-anak. Begitu membumi dan dekat dengan keseharian anak-anak. Inilah kelebihan buku ini dibanding dengan buku lainnya. Para pembaca diajak oleh penulisnya untuk menyelami kehidupan sehari-hari Oliver, tanpa maksud menggurui maupun menghakimi. Alur cerita yang sederhana dan mengalir bebas membuat para pembaca tidak ingin berhenti membaca sebelum paragraf terakhir.


Dengan gaya penceritaan yang sederhana dan apa adanya inilah, buku ini mengena di pasaran tidak hanya terkenal di kalangan para pembaca di kalangan anak-anak tetapi juga para pembaca kalangan dewasa. Padahal buku ini sudah ditulis oleh penulisnya tiga abad yang lalu (tahun 1837), waktu yang sangat lama dan buku ini masih dicetak ulang berkali-kali dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Sehingga tokoh utama buku ini sangat terkenal di kalangan pembaca dan buku ini menjadi salah satu karya abadi penulis legendaris Charles Dickens.




Senin, 01 Juni 2020

Ruang Baca 1 : Layang – Layang Putus

Pada edisi Juni ini, saya menulis tentang ruang baca. Sebuah edisi khusus yang membahas tentang buku-buku yang ‘dulu’ pernah saya baca. Saya menuliskan kembali catatan-catatan tentang buku yang pernah saya baca tersebut di edisi ruang baca. Meskipun dengan segala keterbatasan tulisan dan bahan(karena saya tidak bisa menyertakan foto dari buku-buku tersebut karena kebetulan buku yang baca tersebut buku pinjaman di perpustakaan atau di ruang baca) maka dengan sangat terpaksa tidak ada dokumentasinya.

Berikut ini tulisan saya untuk edisi 1 ruang baca

Judul Buku                  : Layang – Layang Putus
Pengarang                   : Masharto Al Fathi
Penerbit                       : DAR! MIZAN
Tahun Terbit                : Dzulhijjah 1425 H/Februari 2005
Jumlah Halaman          : 288 hlm

Ketidaksempurnaan merupakan semangat yang tidak ada habis-habisnya bagi orang yang memilikinya. Kadang, ketidaksempurnaan dapat melahirkan inspirasi yang cerdas, berbobot dan menyentuh. Begitu pula kesan yang dapat ditangkap dari pengarang buku Layang-Layang Putus ini, ketidaksempurnaan yang diderita oleh sang pengarang dapat diubahnya menjadi inspirasi sebuah buku. Sang pengarang bisa melepaskan diri dari rasa minder, tidak berarti dan tidak mampu menghasilkan karya yang bagus seperti hasil karya-karya manusia normal lainnya. Justru dengan ketidaksempurnaan fisik yang dideritanya, sang pengarang bisa menghasilkan karya-karya yang tidak bisa dibilang jelek. Sungguh, suatu pencapaian yang membanggakan.

Secara garis besar, buku ini bercerita tentang Yoyok, seorang difabel yang disisihkan atau dipinggirkan dari masyarakat yang ada di sekitarnya. Seolah-olah difabel itu aib bagi orang yang menderitanya, dikucilkan dan bahkan sering dianggap sebelah mata. Yoyok, tokoh utama buku ini merupakan anak orang miskin yang sejak kecil harus berpikir keras bagaimana caranya agar ketidaksempurnaan yang dimilikinya dianggap normal oleh masyarakat yang ada di sekitarnya. Difabel bukan akhir dari kehidupan normal orang-orang yang menderitanya. Buktinya, Yoyok mampu menjadi sarjana dan meraih pekerjaan seperti manusia normal lainnya. Walaupun pada akhirnya ada saja bagian dari masyarakat yang tidak mau menerima kekurangannya.

Buku ini ditulis dengan latar belakang cerita yang kuat. Menggunakan bahasa sehari-hari sehingga jalan penceritaannya hidup. Seakan-akan kita sendiri hidup di Kaliwiru dan Yogyakarta yang memiliki suasana Jawa yang kental. Cara penulisan seperti ini mengingatkan kita akan gaya penulisan sastrawan besar Umar Kayam.

Selain itu, di buku ini terdapat juga beberapa pertanyaan menggelitik  tentang berbagai fenomena-fenomena yang ada di sekelilingnya. Belum lagi, kritik-kritik sosial yang sekekali dilontarkankan dalam buku ini. Namun dibalik kelebihan-kelebihan buku ini ada juga beberapa hal yang bisa menjadi kekurangannya: kadang-kadang, bahasa keseharian yang digunakan oleh orang desa di dalam buku ini terlalu tinggi untuk ukuran normal sehingga agak mengganggu. Selain itu, ada beberapa bagian yang terlalu melankolis.

Akhir kata, banyak hal tentang orang-orang difabel yang bisa kita pahami dari buku ini. Sekali lagi, ketidaksempurnaan terkadang juga suatu motivasi luar biasa bagi kehidupan ini. Tetap memberi arti di tengah segala keterbatasan