Ruang Baca

Ruang Baca

Selasa, 07 November 2017

Swarnadwipa: Kisah si Tuan Gunung Berapi

Novel Swarnadwipa ini tidak berkisah tentang hebatnya pendaki gunung atau seberapa banyak perjalanan yang telah ditempuh oleh sang avonturir tetapi Swarnadwipa ini lebih berkisah tentang anak muda dan orang-orang terdekatnya yang belajar membaca tanda dari perjalanannya di Pulau Emas.
Di swarnadwipa ini kita akan bertemu kembali dengan Rakata, si Tuan Gunung Berapi. Penggambaran Rakata sebagai sosok tak sempurna dalam novel ini membuat karakter Rakata lebih menarik dan kuat. Sepertinya sosok yang satu ini akan susah dilupakan oleh pembaca.
Singkat kata, novel ini Rakata banget, bukan hanya tentang perjalanannya ke gunung-gunung berapi tetapi juga perjalanan ke dalam dirinya. Bagaimana Rakata menemukan emasnya? Dan kira-kira apa emasnya?
Lalu, kira-kira apa emasmu? Ikuti kisah novel ini

Minggu, 27 Agustus 2017

Makanan-Makanan Indonesia Favorit (Bag.1)

Ngomongin makanan favorit itu enggak ada habisnya, apalagi klo ngomonginnya ditemani sepiring lemper sama teh#kalapdehmulutny. Iyepp, untuk tema indonesia banget ini saya enggak bakal ngomongin tentang tempat-tempat di Indonesia yang keren tapi saya mo ngomongin tentang makanan-makanan indonesia yang maknyuss#eh...ini makanan favorit menurut versi saya sih :D en belum tentu kalian sependapat. Sok..diintip makanan apa aja yang saya rekomendasikan.
Serawut
Serawut sudah enggak asing bagi masyarakat Jawa apalagi yang tinggal di pesisir Utara dan sekitarnya. Makanan yang satu ini dibuat dari singkong yang diparut kasar kemudian ditaburi garam dan gula merah kemudian dikukus sampai matang. Makanan ini lebih enak disajikan saat masih hangat dan ditaburi dengan parutan kelapa ehmm..mantap
Sayur Asem
sayur asem memang bukan makanan yang mewah atau spesial bagi sebagian penduduk negeri ini, tapi bagi orang Betawi, sayur asem selalu ada dalam acara jamuan makan, mo itu acara arisan, reunian atau acara kumpul-kumpul biasa. sayur asem wajib ada ditemani dengan sambal dan ikan asin peda atau jambal. yang membuat sayur asem mereka istimewa adalah banyaknya daun salam muda yang ditambahkan ke sayur plus beraneka sayuran di dalamnya seperti kacang tanah, kacang panjang, pepaya muda, labu siam, melinjo, jagung,dll. pokoknya acara-acara madang enggak lengkap klo belum ada sayur asemnya.
Tape Uli
Tape Uli salah satu makanan lokal yang menurut saya enak banget#mukalaper. makanan ini dinamain tape uli karena memang terdiri dari tape dan uli. Bahan tape dibuat dari ketan hitam dan uli dibuat dari ketan putih
Gemblong
Satu lagi makanan favorit yang dibuat dari ketan, namanya "gemblong" entahlah, saya sendiri enggak paham kenapa makanan ini dinamain gemblong ??? Makanan ini dibuat dari ketan yang digoreng dengan taburan gula merah #ngecesss deh bayangingnya :D

Jumat, 04 Agustus 2017

"Mengalami"

Terkadang ada saja orang nanya ke saya, ngapain jalan kesana kemari kayak orang yang enggak punya kerjaan. Duh,...ini abad 21 tapi orang masih nganggap perjalanan itu sesuatu yang aneh. Padahal klo mo ngeliat sejarah ratusan tahun silam (mulai lebay deh^^), orang-orang Eropa dan Asia sudah bepergian kesana-kemari. Enggak semua perjalanan itu identik buang-buang uang dan waktu. Apalagi hal ini diperparah dengan banyaknya orang yang enggak tahu klo perjalanan itu bukan hanya sekedar beli suvenir dan update foto perjalanan di instagram, mamerin banyaknya tempat yang sudah dikunjungi, tapi perjalanan lebih dari itu. Karena dengan perjalanan kita bisa mendapatkan pengalaman " mengalami " merasakan pengalaman berinteraksi dengan tempat-tempat yang jarang dikunjungi, berinteraksi dengan penduduk lokal dan belajar budaya baru. Perjalanan juga mengajarkan kita bahwa kita hanya manusia biasa, tak bisa menduga dengan pasti apapun yang terjadi.

Kamis, 13 Juli 2017

Berburu Buku Traveling

Kalau ditanya buku apa yang patut saya rekomendasikan bagi para pecinta traveling pasti saya akan menjawab ada dua buku yang patut dibaca oleh pecinta traveling yaitu buku Ring of Fire dan satunya lagi buku Rakata dan Rinjani. Buku Ring of Fire memang buku yang sudah lama banget tapi worth to read, buku yang ditulis Lawrence bersaudara pada tahun 1970-an ini berkisah tentang petualangan mereka mengelingi Indonesia. Tak perlu saya lebih-lebihkan pun buku ini memang luar biasa dan terkenal sampai saat ini. petualangan Lawrence bersaudara ini benar-benar seperti dongeng yang mengisahkan keindahan Nusantara. Bagi mereka berdua petualangan mereka disini itu bagai petualangan di negeri mimpi di kala terjaga.
Buku kedua yang saya rekomendasikan adalah Rakata dan Rinjani, sebuah novel yang berkisah tentang perjalanan sang tuan gunung berapi Rakata dan jurnalis muda Rinjani. Novel ini mengajak pembacanya untuk memaknai kesederhanaan, perjalanan bukan hanya soal kesenangan dan keindahannya saja tapi juga maknanya. Bagi saya pribadi, novel ini sudah sukses membuat saya balik lagi ke toko buku dan membeli buku :D

Rabu, 12 Juli 2017

Keindahan Alam Jawa Tengah

Kisah perjalanan saya kali ini dimulai dengan Bis jurusan sby-jogja, dengan tujuan akhir dari perjalanan saya tersebut bukan Solo atau Jogja tapi Klaten. Seperti umum diketahui, obyek wisata yang paling terkenal di kota ini adalah Candi Prambanan tapi untuk kali ini saya enggak akan mengunjungi ataupun menulis tentang Prambanan. Yepp, tujuan perjalanan saya kali ini bukan sebagai turis tetapi cuma sebagai pejalan yang suka menikmati keindahan alam. Saya benar-benar menikmati kehidupan sehari-hari yang ada di Klaten, berbaur dengan warga yang ada di pasar, jalan-jalan keliling dan belajar bahasa dengan baik dan benar^^. Setelah beberapa hari menginap di Klaten, perjalanan saya lanjutkan ke Jogjakarta, tampak dari kejauhan gunung Merapi dengan angkuhnya memamerkan keindahannya, sangat menggoda untuk didaki^^
Di Jogja, saya tak lama karena perjalanan saya lanjutkan ke kota bunga Magelang, salah satu kota peristirahatan yang indah di Jawa Tengah. Tujuan saya memang ke Muntilan tapi tidak untuk menyapa Borobudur, di sana saya hanya beli salak dan menikmati keindahan alamnya. Kemudian perjalanan saya lanjutkan ke terminal Tidar, saya harus mengejar Bis ke Temanggung, ternyata Bis jurusan Magelang-Temanggung hanya sampai jam 6 petang. Untunglah hari masih sore ketika saya ke Temanggung. Di tempat ini saya lumayan lama menginap karena kebetulan ada kerabat yang tinggal disitu. Selama menginap di sana setiap pagi saya selalu disambut dengan keindahan gunung Sindoro dan gunung Sumbing. Tempat ini benar-benar subur karena dikelilingi pegunungan, airnya dingin dan masyarakatnya ramah. Dari Temanggung saya meneruskan perjalanan ke Wonosobo, tujuan saya kawah Dieng. Angkutan umum dari Temanggung ke Wonosobo mudah ditemui, hanya saja kudu milah-milah juga mana angkutan yang langsung me Wonosobo dan mana yang cuma nyampai perbatasan Temanggung. Ada kisah tak terlupakan di sini, saya kena teguran petugas Parkir gegara saya nungguin bis di pinggir jalan yang salah. Petugas parkirnya Sudah jelasin panjang lebar pake Bahasa Jawa halus dan bodohnya saya enggak ngerti^^(kayaknya sy enggak lulus pelajaran bhs jawa) sampai akhirnya petugas parkir tersebut ganti haluan pake bahasa Indonesia dan bilang saya harus nyebrang dulu ke sebelah kiri jalan klo mo naik Bis ke Wonosobo hihihi...sabar yak pak petugas
Gunung Sind0ro
Gunung Sumbing
Dari Temanggung saya ke Semarang, menikmati keindahan gunung Merbabu, jalan yang berkelok-kelok dan keindahan suasana alam pegunungan.
Gunung merbabu
Banyak pemandangan indah yang tak tertangkap kamera. Saya hanya manusia biasa, tak sanggup melukiskan semua keindahan ini
Pada akhirnya perjalanan harus saya akhiri dengan Bis jurusan Semarang-Surabaya. Badan sudah capek semua dan saya pun tertidur di dalam bis.

Selasa, 11 Juli 2017

Menyapa Anyer

Ngebolang ke Anyer selalu mengingatkan saya dengan kisah pembuatan jalan legendaris bikinan Dandles yang membentang antara Anyer-Banten sampai Panarukan-Situbondo Jatim. Sebuah proyek prestisius pada zaman penjajahan yang memakan ribuan pekerja pribumi. Tentunya, Anyer yang sekarang beda dengan Anyer pada zaman penjajahan dulu, jalan Dandles yang masih ada disini tidak lagi menjadi satu-satunya jalan yang menghubungkan bagian barat Pulau Jawa dengan bagian timur Pulau Jawa.
Ah,..lupakan sejenak kisah jalan Anyer, biarlah mercu suar yang masih berdiri kokoh di pinggir pantai menjadi saksi kisah perubahan yang ada di sini. Mari menikmati keindahan pantai yang ada di Anyer
Hari masih pagi ketika saya menyapa Anyer, pantai masih sepi, hanya tampak beberapa pengunjung yang menikmati pantai ini. Mungkin beda lagi ceritanya kalau saya datang pas liburan atau weekend, pengunjung tumpah ruah disini sampai-sampai saya terkadang enggak nyaman menikmati pantai
Suasana pantai yang sepi ini membuat saya dan kawan-kawan saya bisa menikmati suasana pantai dengan sepuas-puasnya. tak kurang dua kamera dan beberapa hp kepenuhan memori dengan kenarsisan kawan-kawan saya. hehehe...saya cuma bisa mengeleng-gelengkan kepala liat tingkah kenarsisan mereka. Bagi saya pribadi, suasana pantai yang damai ini menenangkan dan saya pun sibuk mengambil angle-angle poto yang menarik.

Senin, 10 Juli 2017

Berburu Buku

Sudah lama banget saya tidak menulis tentang buku, setiap tahun setelah pulang dari book fair saya selalu bilang bahwa saya ingin menulis disini tentang kegiatan berburu buku di pameran buku tersebut tapi sampai saat ini, niat itu tinggal niat saja karena keinginan tersebut tak pernah terwujud.
Ada beberapa event pameran buku yang rutin saya dan keluarga saya datangi, diantaranya tahun kemarin kami mengunjungi IBF, Int Book Fair dan Gramedia Book Fair. Setiap pameran buku memiliki kesan tersendiri, misalnya di Intf book fair, saya terkesan dengan pameran kesenian angklung yang ditempatkan dekat pintu masuk, sehingga para pengunjung bisa mengapresiasi kesenian asli indonesia tersebut.
Tahun ini pameran buku yang barusan kami kunjungi adalah IBF, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya IBF diadain di Istora, tahun ini IBF ditempatkan di JCC dan sebelum masuk ke pameran para pengunjung dipersilahkan untuk membeli tiket, hal ini tidak berlaku pada tahun-tahun sebelumnya. Well, suasana baru tapi tidak mengurangi keramaian pameran, pengunjung tetap harus berdesak-desakan dan antri dalam berburu buku.